• depan
  • dome
  • wisuda
  • wsuda

.

Bagaimana Mengukur Kampus Berkualitas

MERRY RIANA - Motivasi Inspirasi 2

Sukses Penuh Perjuangan

Ir. Aliyadi, MM, M.Kom*
Banyak faktor yang dapat menentukan kualitas pendidikan sebuah perguruan tinggi. Mulai dari reputasi, tingkat rekomendasi, hingga kemudahan lulusan perguruan tinggi untuk mendapatkan pekerjaan.
Ada sebuah majalah mix yang melakukan pemeringkatan suatu perguruan tinggi, dalam pemeringkatan tersebut dilakukan dengan menggunakan metode survei kepada calon mahasiswa, orangtua, dan users (industri). Survei tersebut, lanjutnya, mengukur delapan variabel penilaian.
1. Reputasi perguruan tinggi, nasional atau internasional.
2. Kualitas lulusan. Apakah lulusan perguruan tinggi tersebut diakui dan mudah cari kerja.
3. Menyangkut kesesuaian biaya kuliah dan manfaat yang didapat oleh mahasiswa,
4. Kesetaraan perguruan tinggi yang bersangkutan di luar negeri. Sebab, saat ini perguruan tinggi tidak hanya harus bersaing di tingkat nasional tapi juga mampu menyejajarkan diri dengan perguruan tinggi asing yang ada di luar maupun di dalam negeri.
5. Fasilitas yang dimiliki.
6. Menyangkut kontribusi sosial yang sudah dilakukan perguruan tinggi tersebut dalam hal ini pengamalan Tridharma perguruan tinggi.
7. Prestasi membanggakan yang dicapai oleh perguruan tinggi, prestasi disini diukur dari berapa banyak mahasiswa yang mampu mengikuti kompetesi keilmuan, regional, bahkan internasional.
8. Variabel yang digunakan adalah tingkat rekomendasi perguruan tinggi tersebut. Sebab, ketika suatu perguruan tinggi direkomendasikan, berarti lembaga tersebut telah memberikan kepuasan yang luar biasa bagi civitas academika maupun industri.
Dari beberapa variable tersebut, maka kita dapat mengukur kualitas, yang pasti masyakarat untuk mengukur kualitas sangat subyektif. Banyak yang menganggap kuliah di PTN akan memberikan jaminan masa depan yang lebih baik ketimbang mereka yang menempuh studi di PTS. Namun, sebenarnya bagaimana faktanya?
Sebab ukuran sukses itu sangat tergantung pada kematangan seseorang untuk menghadapi kehdiupan setelah masa perkuliahan, karena tolak ukur suskes itu sangat mudah dideteksi yaitu: pertama; kuliah tamat, syukur dengan indek prestasi tinggi, kedua, setelah lulus mempunyai usaha yang selalu meningkat, ketiga, fasilitas yang telah dimiliki, ruma, kendaraan, atau mungkin jumlah usaha yang dimiliki. Jika mengambil jalur pekerja (kuli) sudah bekerja dimana, posisi sebagai apa dan sebagainya. Coba kita perhatikan para pengusaha keturunan, mereka bahkan tidak pernah mengeyam perguruan tinggi negeri yang sangat dibanggakan, mereka memiliki banyak perusahaan bahkan mampu mempekerjakan lulusan yang terbaik suatu PTN dengan tanpa harus mengeluarkan biaya sepeserpun.
Kompetsi pasca perkuliahanlah yang menjadikan tolak ukur yang sangat mudah dibaca, nah untuk mendapatkan data tentang alumni yang sukses memerlukan ketekunan khusus…semoga!!!

.

Seorang Kyai dan Ustadz

hamka

Ulama Buya Hamka

Ir. Aliyadi, MM.M.Kom*

Kyai dan Ustadz: Definisi kyai menurut para ulama, adalah sinonim dari kata “Sheikh” dalam bahasa Arab. Secara terminologi (istilahi), arti kata “Sheikh” itu sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Bajuri adalah “man balagha rutbatal fadli”, yaitu orang-orang yang telah sampai pada derajat keutamaan, karena selain pandai (alim) dalam masalah agama (sekalipun tidak ‘allamah atau sangat alim), mereka mengamalkan ilmu itu untuk dirinya sendiri dan mengajarkan kepada murid-muridnya. Penyebutan “Kyai” itu berasal dari inisiatif masyarakat, bukan dari dirinya sendiri atau media massa.
Kata Ustadz dalam bahasa Arab guru dikenal dengan kata al-mu’alim atau al-ustadz yang bertugas memberikan ilmu dalam majelis taklim. Jadi al-Mu’alim atau alustadz mempunyai pengertian sebagai orang yang mempunyai tugas untuk membangun aspek spriritualitas manusia. Al-ustadz adalah bapak rohani bagi peserta didik yang memberikan santapan jiwa dengan ilmu, pembinaan akhlak mulia dan meluruskan perilakunya yang buruk oleh karena itu pendidikan mempunyai kedudukan tinggi dalam Islam.

Dari definisi diatas maka jika seseorang sudah disebut seorang Al-ustadz maka harus mendekati warna kehidupan yang suci, bersih dan menjadi contoh antara apa yang di omogkan dengan tindakan, jika tidak memang akan mendapatkan penolakan secara halus di maysarakat, memang berat untuk menyandang status tersebut, walaupun banyak juga dalil yang disampaikan bahwa manusia itu tempatnya salah. tapi kita menyadangnya mau tidak mau harus bisa menunjukkan sikap sama antara omongan dan perbuatan, seperti pribahasa jawa “gajah diblangkoni, iso kojah ora iso ngelakoni” alias omong doang. Ini salah satu penyebab krisis kepimpinan, jika saja pemimpin itu konsisten pasti semua orang akan mengikuti, negara maju bisa berkembang dengan pesat memang karena pengaruh pemimpinnya.

lalu bagaimana jika mendengarkan ceramah seorang ustadz hanya pandai bicara secara teori, kita harus menempatkan pada ruang yang kosong, anggaplah kita mendengarkan radioa, dan tidak tahu siapa kyai yang memberikan ceramah, yang penting apa materi ceramah yang disampaikan, walau secara jujur memang sulit untuk menerima nasehat yang disampaikan walaupun nasehat itu baik.

Maka berusahalah untuk menjadi baik, karena menjadi baik dan lebih baik memerlukan perjuangan dan keikhlasan, tapi jika berhasi menuai kebanggaan, sedangkan keburukan tidak memerlukan perjuangan, tapi hasil akhirnya pasti menyesal dan gelo….semoga!!!!

 

.

Kompetisi Microsoft Office Spesialist National Championship 2015 Digelar

nadia

NADIA JUARA I

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tahun 2015 ini, kembali Certiport dan Microsoft kembali mengundang para pengguna Microsoft Office pada ajang World Championship Microsoft Office Specialist 2014, yang akan dilaksanakan di Dallas – Texas, USA pada 9 – 12 Agustus 2015.
Certiport dan Microsoft mencari peserta terbaik dari seluruh negara untuk diberikan apresiasi dan pengalaman kepada peserta untuk memberikan yang terbaik dari kemampuan, kapasitas dan keahliannya dalam berkompetisi.
Dr. Wendi Usino ,MSc selaku Wakil Deputi Rektor Bidang Akademik menyambut baik penyelenggaraan event Microsoft Office Specialist National Championship 2015 dikampus Budi Luhur, dalam sambutannya mengatakan saat ini masih banyak lulusan perguruan tinggi yang menghadapi kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan yang dimilikinya.
“Jika ada ujian sertifikasi yang diakui oleh institusi akademik dan organisasi profesi nasional maupun internasional, dan juga kemudian diakreditasi oleh institusi sertifikasi profesional dari kalangan internasional, sangat diperlukan untuk meningkatkan pengakuan keahlian yang telah dimiliki. Selain sebagai bukti hasil peningkatan keahlian dari sebuah institusi pendidikan, pada saat yang sama juga merupakan pengakuan atas layanan pendidikan yang bertaraf internasional jika sebuah institusi pendidikan memiliki lulusan yang memperoleh sertifikat internasional,” paparnya.
Sedangkan Hendri Irawan,MTI, selaku Kaprodi Sistem Informasi FTI UBL sekaligus sebagai Ketua Panitia menjelaskan kegiatan ini adalah kompetisi nasional yang pertama dilaksanakan oleh Certiport di Indonesia yang diwakili oleh PT. Infosis-BLU bekerjasama dengan Universitas Budi Luhur yang merupakan salah satu dari CERTIPORT AUTORIZED TESTING CENTRE di Indonesia.
“Sebelumnya di Tahun 2014, Indonesia mengirimkan peserta untuk pertama kalinya. Dan tim Indonesia diwakili oleh 2 orang mahasiswa yang berasal dari Fakultas Teknologi Informasi Universitas Budi Luhur. Tidak ada seleksi untuk mencari tim terbaik dari Indonesia, tetapi kita mencari siapa yang bisa memberangkatkan tim Indonesia sesuai dengan persyaratan untuk ajang WORLD CHAMPIONSHIP MICROSOFT OFFICE SPECIALIST 2014. Berbekal prestasi tersebut maka Universitas Budi Luhur dipercaya untuk menyelenggarakan kompetisi Nasional Pertama di Indonesia,” urainya.
Hendri menambahkan persyaratan ikut ajang kompetisi ini mereka yang sudah lulus ujian MOS 2010/2013 dari 01 November 2014 hingga 10 Juni 201 Berusia 13 – 21 Tahun Memiliki nilai ujian minimal 800 , Memiliki waktu ujian maksimal 45 Menit.
Sementara itu, Ismail Syah, Direktur Infosis-BLU menjelaskan Infosis sebagai penyedia dan Distributor resmi untuk produk Certiport di Indonesia dengan sangat bersukur bisa menyelenggarakan kegiatan seleksi Nasional untuk peserta MOS pertama di Indonesia yang berlangsung di Universitas Budi Luhur , pada tahun ini terdapat 400 lebih siswa Indonesia yang masuk proses seleksi untuk bisa masuk seleksi Nasional tetapi baru 69 siswa yang register untuk ikut seleksi nasional.
“Pemenang tingkat nasional ini akan mewakili Indonesia dalam ajang International MOS World Championship di Dallas Texas pada tanggal 9-12 Agustus 2015 nanti,” jelasnya.
Berikut ini hasil dari pemenang Seleksi MOS 2015 dikampus Budi Luhur sbb:
Microsoft Office Word 2013
1. Juara I : Ursula Rosyana Garini – Universitas Budi Luhur
2. Juara II : Abdullah Alim – Universitas Budi Luhur
3. Juara III : Hairil Fiqri Sulaeman – Universitas Budi Luhur
Microsoft Office Excel 2013
1. Juara I : Karmilah Nur Karomah – STMIK LPKIA Bandung
2. Juara II : Ipah Nursyipaeni – STMIK LPKIA Bandung
3. Juara III : Yanti Pebrianti – STMIK LPKIA Bandung
Microsoft Office Power Point 2013
1. Juara I : Safirah Nuranti – Universitas Budi Luhur
2. Juara II : Muhammad Uwasi Al Qarin – Universitas Budi Luhur
3. Juara III : Aghata Novita Sari – Universitas Budi Luhur
Microsoft Office Word 2010
1. Juara I : Andrew Julian – Universitas Budi Luhur
2. Juara II : Rizty Anissa – Universitas Budi Luhur
3. Juara III : Ahmad Nawawi – Universitas Budi Luhur
Microsoft Office Excel 2010
1. Juara I : Siti Holipah – Poltek Tri Mitra Karya Mandiri Tangerang
2. Juara II : Eka Aswardhika – SMK Tunas Harapan Pati
3. Juara III : Lista Septiana – Universitas Muhammadiyah Tangerang
Microsoft Office Power Point 2010
1. Juara I : Nadia Intan Pratiwi – Universitas Muhammadiyah Ponorogo
2. Juara II : Ade Bahtiar Azhari – SMA Negeri 1 Ponorogo
3. Juara III : Anugrah Githa Pradhana – SMA Negeri 1 Ponorogo
PENGHARGAAN PEMENANG
a. Setiap Pemenang mendapatkan Medali, Sertifikat Penghargaan dan Sovenir Microsoft
b. Pemenang yang berasal dari setingkat SMA akan mendapatkan Bea Siswa dari Universitas Budi Luhur
c. Proses Pemberangkatan peserta ke WORLD CHAMPIONSHIP 2015 di Dallas – Texas, USA atas biaya masing-masing/sponsor
d. Setiap Juara Pertama dan Kedua, mendapatkan kesempatan untuk mengikuti WORLD CHAMPIONSHIP 2015 di Dallas – Texas, USA
e. Jika Juara I, tidak mendapatkan sponsor atau biaya sendiri, maka akan diberi kesempatan pada pemenang juara II
f. Kelanjutan program peserta menuju WORLD CHAMPIONSHIP 2015 di Dallas – Texas, USA akan didiskusikan ke masing-masing ATC (Authorized Testing Center) bagi para pemenang. (Rabu, 17 Juni 2015 11:39 WIB)

.

Akreditasi dan Auditor Perguruan Tinggi

bant ptIr. Aliyadi, MM, M.Kom*

Akreditasi: Saat ini setiap perguruan tinggi baik negeri maupun swasta harus melakukan akreditasi. Kemendiknas sudah menetapkan bila suatu program studi (prodi) dari suatu perguruan tinggi (PT) tidak melakukan akreditasi, setelah tahun 2012, maka prodi tersebut tidak akan diperbolehkan mengeluarkan ijasah. Dan UU perguruan tinggi juga sudah mewajibkan akreditasi sebagai syarat pemberian izin bagi perguruan tinggi. Akreditasi diperlukan untuk menjamin mutu dari suatu lembaga pendidikan. Selain itu untuk masyarakat umum, akreditasi juga bisa menjadi alat untuk mengukur kesiapan suatu PT untuk melakukan proses pendidikan.
Tapi sayangnya saat ini masih banyak PT yang belum terakreditasi, termasuk beberapa PT negeri. Walaupun demikian jumlah PT swasta yang belum terakreditasi jauh lebih banyak daripada PT negeri. Salah satu alasannya adalah banyak PT swasta yang sudah keburu tutup karena memiliki jumlah mahasiswa yang sedikit. Bahkan menurut Prof. Abdul Hakim, Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) IV Jawa Barat dan Banten, banyak PT swasta yang tahun ini menerima mahasiswa tetapi tahun depan tidak. Di lapangan ternyata dalam melakukan persiapan akreditasi, banyak ditemukan PT yang meminjam dosen dari luar, belum lagi yang melakukan persiapan asal-asalan karena tanpa akreditasi mereka sudah merasa cukup diminati, demikian pendapat Prof. Said Hamid Hasan, pakar pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia. (http://doniherdiuir.blogspot.com/).
Akreditasi dipahami sebagai penentuan standar mutu serta penilaian terhadap suatu lembaga pendidikan (dalam hal ini pendidikan tinggi) oleh pihak di luar lembaga pendidikan itu sendiri. Mengingat adanya berbagai pengertian tentang hakikat perguruan tinggi (Barnet, 1992) maka kriteria akreditasi pun dapat berbeda-beda. Barnet menunjukkan, bahwa setidak-tidaknya ada empat pengertian atau konsep tentang hakikat perguruan tinggi :
1. Perguruan tinggi sebagai penghasil tenaga kerja yang bermutu (qualified manpower). Dalam pengertian ini pendidikan tinggi merupakan suatu proses dan mahasiswa dianggap sebagai keluaran (output) yang mempunyai nilai atau harga (value) dalam pasaran kerja, dan keberhasilan itu diukur dengan tingkat penyerapan lulusan dalam masyarakat (employment rate) dan kadang-kadang diukur juga dengan tingkat penghasilan yang mereka peroleh dalam karirnya.
2. Perguruan tinggi sebagai lembaga pelatihan bagi karier peneliti. Mutu perguruan tinggi ditentukan oleh penampilan/prestasi penelitian anggota staf. Ukuruan masukan dan keluaran dihitung dengan jumlah staf yang mendapat hadiah/penghargaan dari hasil penelitiannya (baik di tingkat nasional maupun di tingkat internasional), atau jumlah dana yang diterima oleh staf dan/atau oleh lembaganya untuk kegiatan penelitian, ataupun jumlah publikasi ilmiah yang diterbitkan dalam majalah ilmiah yang diakui oleh pakar sejawat (peer group).
3. Perguruan tinggi sebagai organisasi pengelola pendidikan yang efisien. Dalam pengertian ini perguruan tinggi dianggap baik jika dengan sumber daya dan dana yang tersedia, jumlah mahasiswa yang lewat proses pendidikannya (throughput) semakin besar.
4. Perguruan tinggi sebagai upaya memperluas dan mempertinggi pengkayaan kehidupan. Indikator sukses kelembagaan terletak pada cepatnya pertumbuhan jumlah mahasiswa dan variasi jenis program yang ditawarkan. Rasio mahasiswa-dosen yang besar dan satuan biaya pendidikan setiap mahasiswa yang rendah juga dipandang sebagai ukuran keberhasilan perguruan tinggi.
Melihat tujuan dan cara penilaian, tentu saja akreditasi adalah penting (baca: sangat penting). Akreditasi adalah suatu bentuk standardisasi. Dalam rekayasa teknologi, penggunaan standard yang sama memungkinkan semua elemen yang berbeda bisa di integrasikan. Sebagai contoh misalnya saja ukuran ban mobil. Dengan adanya standard yang sama, berbagai perusahaan berbeda bisa membuat versi ban mobilnya sendiri, tapi tetap bisa dipasangkan ke suatu mobil.
Standardisasi pendidikan sangat penting bila kita menginginkan pendidikan kita maju. Dengan standard yang sama, maka lulusan sarjana teknik dari PT A, akan relatif sejajar dengan sarjana teknik dari PT B.
Tapi apakah mudah dalam implementasinya? Tentunya tidak. Suatu PT wajib berusaha mempersiapkan jumlah dosen tetapnya. Hal ini menjadi masalah yang cukup berat untuk PT swasta yang masih baru, dan akhirnya banyak yang meminjam dosen dari luar. Hal ini akan menjadi masalah ketika masa akreditas berakhir. Berakhirnya masa akreditas mengharuskan suatu Prodi mempersiapkan kembali persyaratan untuk mendapatkan akreditas, dan bukan tidak mungkin akreditasi yang semula A menjadi turun. Dan dari 11267 program studi saat ini tercatat 2684 program studi harus kembali di akreditasi.
Jadi akreditasi ini penting untuk menjaga mutu. Program Studi yang tidak bisa menjaga kestabilan mutunya akan ‘jatuh’. Dan akhirnya masyarakatlah yang akan di untungkan. Tapi hingga saat ini masih ada nada miring tentang akreditasi ini, terutama protes dari pihak yang turun nilai akreditasinya. Jika memang mutu selalu terjaga maka seharusnya nilai akreditasi tidak turun. Bila dengan standard yang sama, tapi telah terjadi penurunan, pastilah ada yang salah.

Mestinya proses akreditasi tidak bertumpuk di BAN-PT. Tetapi juga dibagi ke Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM) yang dibuka oleh masyarakat/swasta, yang diharapkan bisa meringankan beban BAN-PT sebagaimana amanat undang-undang Dikti yang disahkan 13 Juli 2012, pada Pasal 55 ayat (4) yang menyebutkan: “Akreditasi perguruan tinggi dilakukan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi” ; serta ayat (5): “Akreditasi Program Studi sebagai bentuk akuntabilitas publik dilakukan oleh lembaga akreditasi mandiri”. Lebih lanjut pada pasal 55 Ayat (6) diebutkan bahwa: “Lembaga akreditasi mandiri sebagaimana dimaksud pada ayat (5) merupakan lembaga mandiri bentukan Pemerintah atau lembaga mandiri bentukan Masyarakat yang diakui oleh Pemerintah atas rekomendasi Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi“.
Dari berbagai sumber yang dilansir media saat ini, pemerintah sedang menyiapkan regulasi teknis berdirinya Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM) untuk mengatasi banyaknya lembaga yang memerlukan akreditasi. Lembaga ini seharusnya merupakan perwakilan dari masyarakat, misalnya masyarakat profesi, Kopertis juga sudah harusnya menyiapkan LAM, dimana nantinya untuk akreditasi Prodi melalui LAM dan akreditasi institusi melalui BAN-PT sebagaimana amanah dari Undang-Undang No 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi. Jika Saat ini Persyaratan ijazah legal hanya cukup prodinya saja yang terakreditasi. Tetapi dalam Undang-Undang 12/2012, ijazah legal jika dikeluarkan oleh kampus yang institusi dan prodinya terakeditasi, dan peraturan ini berlaku per 10 Agustus 2014.
Kenyataan yang terjadi di lapangan, bahwa status akreditasi ini kerap menjadi pro dan kontra baru di kalangan pengguna lulusan, termasuk masyarakat umum, terlebih lagi pada lingkungan akademik baik lingkup negeri maupun swasta. Sebab di tengah tuntutan pencari kerja yang berbekal ijasah yang tidak terakreditasi dipastikan tidak akan lolos dalam seleksi pemberkasan administrasi yang mensyaratkan akreditasi program studi minimal B, khusus pada seleksi CPNS. Sehingga banyaknya program studi di kampus negeri dan swasta yang belum terakreditasi B, merasa sangat dirugikan dengan regulasi pemerintah ini, padahal infrastruktur akreditasi belum berjalan baik, dalam hal ini lambatnya proses akreditasi oleh BAN-PT.
Persoalan lainnya adalah keterbatasan SDM Kampus, dimana staf dosen yang mengajar tetap di kampus rata-rata masih bergelar sarjana (S1) jarang yang Magister (s2) apalagi (S3), kalaupun ada masih dalam proses penyelesaian studi, inipun membutuhkan waktu yang tidak singkat. Maka terkadang untuk menyiasati kelangkaan SDM ini biasanya kampus swasta dibantu oleh staf dosen dari kampus negeri yang dikaryakan di PT Swasta tersebut guna menutupi kekosongan yang ada, hal ini wajar terjadi karena tugas pokok dosen dan fungsi Dosen sendiri selain melakukan aktivitas pendidikan pengajaran dan penelitian, juga wajib melakukan pengabdian baik di masyarakat maupun lembaga pendidikan. Jangankan di daerah di berbagai kota Besar program karya dosen negeri di berbagai kampus swasta menjadi sangat berarti untuk menutupi kekosongan yang ada.
Namun rupanya hal ini pula yang menjadi titik lemah manajemen kampus swasta, karena cenderung selalu menggantungkan pada SDM dosen Negeri, atau Dosen yang diperbantukan, sehingga perekrtutan dosen baru sangat lambat terjadi, untuk regenerasi pengajar di kampus swasta. atau bisa dikatakan jarang ada atau bahkan tidak ada sama sekali. Sehingga tidak aneh jika kemudian jarang ada Dosen yang kompetensinya sebidang yang melamar dan menjadi pengajar pada program studi tersebut. Sebab syarat mutlak program terakreditasi adalah sebidang dengan program studi atau mata kuliah yang diajarkan pada program studi tersebut. Mungkin karena kebijakan kampus swasta yang membatasi atau ketiadaan anggaran untuk merekrut dosen baru baik dari yayasan atau kopertis sehingga, tetap saja ketika datang kebijakan akreditasi untuk menilai sebesar apa kompetensi SDM di kampus tersebut, tidak masuk dalam hitungan jika dosen yang ada adalah dosen yang dikaryakan atau yang diperbantukan, bukan dosen asal program studi atau kampus tersebut.
Hal ini bisa kita amati dari laman resmi pangkalan data perguruan tinggi https://forlap.dikti.go.id/, bahwa rata-rata kampus yang memiliki program studi yang memperoleh akreditasi baik adalah yang SDM atau tenaga pengajarnya rata-rata magister (s2) bahkan doktor (s3) dan sebidang keilmuannya, selain itu berimbang dengan jumlah mahasiswa. Jika tidak maka, inilah yang menjadi faktor menghambat akreditasi program studi, akreditasi fakultas, termasuk akreditasi universitas. Selain keterbatasan dosen tetap di tiap program studinya, yang tidak berimbang dengan jumlah mahasiswa. ironinya fenomena ini bukan saja terjadi di kampus swasta, melainkan tidak jarang terjadi di kampus negeri sekalipun.

Apakah Fungsi Asesor BAN PT sama dengan Auditor?

Pengertian Asesor: Asesor Akreditasi BAN-PT (selanjutnya disebut asesor) adalah seseorang yang memiliki kualifikasi untuk melaksanakan asesmen pada BAN PT. Penilaian dapat dilaksanakan secara menyeluruh oleh Asesor Kepala, atau oleh suatu Tim Asesmen dibawah tanggung jawab Asesor Kepala.

Seorang yang memenuhi persyaratan asesor kepala dapat ditetapkan sebagai ketua Tim Asesmen. Calon asesor adalah seorang yang mempunyai kualifikasi keahlian / pendidikan dan pelatihan yang sama dengan asesor namun belum mempunyai pengalaman asesmen yang sama dengan asesor.

Ada beberapa pengertian tentang asesmen menurut para ahli :

Menurut Robert M Smith (2002)
“Suatu penilaian yang komprehensif dan melibatkan anggota tim untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan yang mana hsil keputusannya dapat digunakan untuk layanan pendidikan yang dibutuhkan anak sebagai dasar untuk menyusun suatu rancangan pembelajaran.

Menurut James A. Mc. Lounghlin & Rena B Lewis
“Proses sistematika dalam mengumpulkan data seseorang anak yang berfungsi untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang dihadapi seseorang saat itu, sebagai bahan untuk menentukan apa yang sesungguhnya dibutuhkan. Berdasarkan informasi tersebut guru akan dapat menyusun program pembelajaran yang bersifat realitas sesuai dengan kenyataan objektif.

Menurut Bomstein dan Kazdin (1985)

  • Mengidentifikasi masalah dan menyeleksi target intervensi
  • Memilih dan mendesain program treatmen
  • Mengukur dampak treatmen yang diberikan secara terus menerus.
  • Mengevaluasi hasil-hasil umum dan ketepatan dari terapi.

Menurut Lidz 2003
Proses pengumpulan informasi untuk mendapatkan profil psikologis anak yang meliputi gejala dan intensitasnya, kendala-kendala yang dialami kelebihan dan kelemahannya, serta peran penting yang dibutuhkan anak.  Hasil Kajian dari Pengertian diatas adalah sebagai berikut :

Tujuan asesmen adalah untuk melihat kondisi anak saat itu. Dalam rangka menyusun suatu program pembelajaran yang tepat sehingga dapat melakukan layanan pembelajaran secara tepat.

Tujuan Asesmen
Menurut Robb

  • Untuk menyaring dan mengidentifikasi anak
  • Untuk membuat keputusan tentang penempatan anak
  • Untuk merancang individualisasi pendidikan
  • Untuk memonitor kemajuan anak secara individu
  • Untuk mengevaluasi kefektifan program.

Menurut Sumardi & Sunaryo (2006)

  • Memperoleh data yang relevan, objektif, akurat dan komprehensif tentang kondisi anak saat ini
  • Mengetahui profil anak secara utuh terutama permasalahan dan hambatan belajar yang dihadapi, potensi yang dimiliki, kebutuhan-kebutuhan khususnya, serta daya dukung lingkungan yang dibutuhkan anak
  • Menentukan layanan yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhan khususnya dan memonitor kemampuannya.

Menurut Salvia dan Yesseldyke seperti dikutif Lerner (1988: 54)
Asesmen dilakukan untuk lima keperluan yaitu :

  • Penyaringan (screening)
  • Pengalihtanganan (referal)
  • Klasifikasi (classification)
  • Perencanaan Pembelajaran (instructional planning)
  • Pemantauan kemjuan belajar anak (monitoring pupil progress)

Berdasarkan hasil kajian dari teori-teori diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa :
“Asesmen dilakukan untuk mengetahui keadaan anak pada saat tertentu (Waktu dilakukan asesmen) baik potensi-potensinya maupun kelemahan-kelemahan yang dimiliki anak sebagai bahan untuk menyusun suatu program pembelajaran sehingga dapat melakukan layanan / intervensi secara tepat.

  • Ruang Lingkup
  • Motorik
  • Kognitif
  • Emosi
  • Perilaku adaptif
  • Bahasa

Asesmen adalah penilaian lapangan pada BAN PT untuk membuktikan bahwa kebijakan dan prosedur serta ketentuan yang dimuat dalam dokumentasi Borang BAN PT diterapkan secara taat asas. (http://unsilster.com/2009/12/pengertian-asesmen)

Pengertian audit, audit adalah proses yang dilakukan oleh seorang auditor dimana untuk mendapatkan bukti yang akurat mengenai aktivitas ekonomi suatu entitas, proses audit ini akan dilakukan untuk menyetarakan derajat kewajaran aktivitas ekonomi suatu entitas tersebut apakah telah sesuai dengan yang telah ditetapkan dan melaporkan hasilnya kepada para pihak yang berkepentingan.

 Jenis-jenis Audit
1. Audit Laporan Keuangan
Ada beberapa jenis audit, untuk Audit laporan keuangan ini ketika perusahaan menyajikan sebuah laporan-laporan dan auditor melakukan audit, maka proses audit yang dilakukan oleh auditor tersebut adalah audit laporan keuangan. Serta audit ini hasilnya akan disampaikan kepada beberapa pihak seperti pemegang saham dan kreditor.
2. Audit Kinerja
Ketika seorang auditor melakukan audit untuk mengetahui efisiensi dan efektivitas suatu kegiatan operasi perusahaan, maka proses audit yang dilakukan oleh auditor tersebua adalah audit kinerja, audit ini dilakukan bertujuan untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti-bukti yang ditemukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh entitas.
3. Audit Kepatuhan
Audit kepatuhan adalah audit yang dilakukan oleh seorang auditor untuk melihat kegiatan operasi suatu entitas apakah telah sesuai dengan ketetapan, ketentuan, peraturan, persyaratan yang berlaku atau telah disetujui, seperti perjanjian dengan kreditor , perundang-undangan disuatu negara.
Jenis-jenis Auditor
Setelah diatas telah dijelaskan jenis-jenis audit, maka sekarang kita akan membahas jenis-jenis auditor, terdapat tiga jenis auditor, yaitu :
jenis auditor yang pertama adalah :
1. Auditor Internal
Auditor internal adalah auditor yang merupakan pegawai dari suatu entitas (pegawai suatu perusahaan atau organisasi), mereka dipekerjakan oleh sebuah entitas.
jenis auditor yang kedua adalah :
2. Auditor Independen
Auditor independen adalah auditor yang bekerja kepada kantor-kantor akuntan publik. Sesuai dengan namanya, auditor independen harus bersikap independen, tidak boleh dipengaruhi oleh pihak-pihak dari klien.
jenis auditor yang ketiga adalah :
3. Auditor Pemerintah
Auditor pemerintah adalah auditor yang bekerja untuk pemerintah, mereka melaksanakan tugas-tugas auditnya untuk membantu lembaga-lembaga atau organisasi-organisasi pemerintah dalam kegiatan operasinya dan kegiatan lain yang diperlukan.

 Sebagai bahan refleksi akhir bahwa jika ingin mulai sesuatu mulailah dari hal kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai saat ini (AA Gym). Ketika anda bertanya sejauh mana akreditasi, mestinya anda sudah mulai ‘mengakreditasi diri sendiri’, inilah yang jarang mahasiswa lakukan; misalnya apakah kemampuan ‘akreditasi pribadi’ sebagai mahasiswa memiliki kemampuan holistik (kognitif, psikomotor dan afektif-teori Bloom), sebab meskipun nilai akreditasi kampus atau program studi anda akreditasinya B atau A tapi nilai ‘akreditasi kepribadian’ anda tidak mencukupi, mungkin anda bisa saja diterima di sebuah instansi tapi tidak di masyarakat. Semoga sukses akreditasi kampus bisa dimulai dari suksesnya ‘mengakreditasi’ diri sendiri.
Jika siapa saja yang megaku cerdas dan tangguh juga, cermat serta terampil, di samping punya kepribadian yang baik, mestinya tidak hanya dibatasi oleh selembar ijasah atau akreditas sehingga nilai yang ada dalam lembaran kertas tidak mengkerdilkan anda untuk melakukan hal-hal yang luar biasa, di masyarakat. Bukan cerita baru bahwa kini orang yang sukses bukan diukur dari gelar sarjana dan ijasah, tapi keuletan dan konsisten, disamping kreatif dan berani mencoba hal baru. Beranilah berkreasi positif dan tanggungjawab. Catatan di lapangan banyak mengungkap fakta bahwa penggerak ekonomi bangsa itu adalah industri kreatif kenapa tidak mencobanya?, jadi sarjana yang tidak hanya mengandalkan ijasah mestinya banyak baca, pasti berjaya, dan juga banyak cinta sehingga suatu saat nanti anda tidak akan lagi bertanya ada apa dengan akreditasi? tapi apa lagi yang saya harus buat untuk negeri ini?
Jadi Akreditasi sangat diperlukan untuk standar ukuran tentang mutu pendidikan pada suatu lembaga pendidikan perguruan tinggi,dimana setiap perguruan tinggi harus bisa meningkatkan mutu dan daya saing terhadap lulusan nya dan dapat menjamin tentang proses belajar mengajar pada perguruan tinggi tersebut,dan sebagai acuan untuk memberikan informasi tentang sudah siapnya suatu perguruan tinggi tersebut dalam melakukan kegiatan proses belajar mengajar sesuai standarisasi yang diberikan oleh pemerintah (kemendiknas) dalam tahap proses globalisasi pendidikan untuk daya saing secara global dimasa datang. (http://www.kompasiana.com/)

 

.

Masjid Ternyata Banyak Syaitan

Ir. Aliyadi, M.M., M.Kom.*

Masjid: Umat islam mempunyai rumah ibadah Masjid, Musholah, Langgar atau Surau, tempat ini adalah tempat melaksanakan ibadah ritual menghadap, memuji serta menyambah sang pencipta manusia Allah SWT, walaupun ditempat lainpun boleh untuk melasanakan shalat. Boleh percaya atau tidak, jangan dikira tempat-tempat yang penulis maksudkan diatas tidak ada syaitan, bahkan syaitannya lebih hebat dibandingkan ditempat lain, betapa tidak semua orang yang sedang shalat disanding untuk digoda. Hemat saya selama ini syaitan itu berada ditempat-tempat yangl terkesan angker saja yang banyak syaitannya, karena menurut para kyai syaitan kalau dibacakan surat An-nas akan kepanasan dan lari tunggang langgang, tapi yang hadir di masjid sudah kebal, kalau shaf kita tidak rapat bisa menjejeri kita, maka kalau kita shalat berjamaah shaf harus betul-betul rapat agar syaitan tidak bisa masuk dalam barisan shaf. Untuk mengetahui adanya syaitan tatkala kita sedang shalat, sejak kita mengucap takbir Allahu Akbar, pikiran biasanya langsung melayang kemana-mana, hampir dipastikan demikian kecuali yang benar-benar khusyuk, bukan tidak mungkin ide-ide cemerlang muncul saat kita shalat, semestinya kita berdialog dengan Allah tapi malah sebaliknya, kita berdialog dengan diri sendiri, bahkan yang tadinya tidak terpikirkan akhirnya menyatu dalam lamunan, yang celaka bahkan bisa mengacaukan bacaan bahkan jumlah rakaat saat kita shalat, dan yang lebih seru lagi kita didorong oleh syaitan untuk melakukan shalat lebih cepat seperti ada sesuatu yang menunggu. Intinya dimasjid dan musholah ternyata banyak syaitannya, tinggal kita percaya atau tidak, mungkin pembaca tidak merasakan atau memang sama dengan pengalaman penulis, hanya kepada Allah kita berlindung….semoga!!!!