• wsuda
  • IMG-20141221-WA0001

0

.

Gagap Informasi Menghinggapi Masyarakat Kita

Ir. Aliyadi, MM,M.Kom*

kaget

Ekspresi Kaget

Gagap: Akhir-akhir ini berkembang suatu slogan dalam bentuk pertanyaan mendasar, siapakah orang yang hebat itu? Orang yang hebat adalah orang yang cepat menangkap informasi. Orang yang cepat menangkap informasi, berarti dia lebih dulu tahu dari orang lain. Bahkan tidak mustahil, informasi itu bisa dijual dan menghasilkan uang. Betapa mahalnya suatu informasi, karena bisa menjadikan orang kaya hanya gara-gara “jualan” informasi. Bahkan ketika kita mendengarkan informasi baru dari orang lain yang kita sebelumnya tidak tahu, kadang-kadang kita merasa bodoh, kenapa kita tidak tahu informasi itu sejak lama. Untuk itu, apa yang pernah disampaikan oleh Al-Ghazali “Semakin bertambah ilmuku, semakin tahu kebodohanku” benar adanya dalam konteks pemahaman terhadap teknologi informasi dan berbagai ilmu pengetahuan lainnya.

Di era persaingan global ini, upaya untuk mencetak mahasiswa yang menguasai teknologi informasi yang diharapkan nantinya menjadi lulusan yang handal dan “siap bersaing”, mandiri dan berkualitas akan menjadi tuntutan dan harapan semua pihak. Persoalan ini tidak hanya menjadi tanggungjawab dunia perguruan tinggi atau kampus semata, Dengan demikian, wajah kampus dan organisasi kemahasiswaan sebagai “kawah candradimuka” bagi mahasiswa akan semakin kokoh dan berdiri tegak di atas landasan teologis, akademis, dan yuridis yang benar. Apabila organisasi kemahasiswaan dapat melaksanakan demikian, maka wajah kampus sebagai masyarakat kecil (small society) dan komunitas ilmiah-religius (religius-scientific community) idiologis yang harus mendukung hidup suburnya tradisi ilmiah-religius, yakni berkembangnya wawasan berfikir ilmiah yang bersendikan pada ajaran agama masih tetap terjaga dengan baik, karena dihuni oleh para mahasiswa yang berkualitas, kompetitif, dan menguasai teknologi.  Disinilah pentingnya organisasi kemahasiswaan bersifat akomodatif untuk mengembangkan program-programnya secara lebih praktis-pragmatis. Namun demikian, sebagai lembaga kader, misalnya BEM, HMI, IMM yang harus tetap memegang prinsip-prinsip etika organisasi dan etika sosial yang dibingkai dengan nilai-nilai religius, tanpa harus terperangkap pada kepentingan sesaat dan segmentatif.

Untuk mendukung cita-cita ini, maka diperlukan penataan organisasi kemahasiswaan yang lebih efektif. Organisasi kemahasiswaan yang efektif ditandai dengan visi dan misi yang jelas, program yang realiabel, dan tujuan yang operasional. Dengan ini diharapkan, para lulusannya akan lebih kompetitif dimasa depan. Dalam menghadapi pasar bebas dunia tahun 2020 nanti, lulusan perguruan tinggi kita tidak hanya bersaing dengan lulusan perguruan tinggi dalam negeri lainnya, tetapi juga lulusan pendidikan tinggi negara tetangga semacam Singapura, Malaysia,  Pilipina dan Thailand bahkan perguruan tinggi negara-negara maju semacam Amerika, Jepang, Inggris, Jerman, dan Perancis. Pertanyaannya sekarang adalah, mampukah kita memenangkan persaingan ini? Hal ini penting untuk dipertanyakan, sebagai langkah antisipasi ke depan. Sebab, tanpa usaha ini, tidak mustahil mahasiswa kita akan terasing di “rumahnya sendiri”, karena tidak memenuhi logika persaingan dan tidak memenuhi selera pasar. Untuk itu, diperlukan berbagai informasi penting mengenai berbagai kiat dan strategi dalam peningkatan kualitas kelembagaan kemahasiswaan, khususnya berkaitan dengan life skills. Dengan pengembangan program yang bermuara pada life skills, diharapkan diperoleh berbagai informasi yang dapat menjadi “nafas baru” bagi peningkatan kualitas lulusan, khususnya dibidang kewirausahaan (enterpreneurship), sehingga mereka bisa mandiri dan mampu memenangkan persaingan dalam berbagai sektor kehidupan. Semoga.

Informasi adalah pesan (ucapan atau ekspresi) atau kumpulan pesan yang terdiri dari order sekuens dari simbol, atau makna yang dapat ditafsirkan dari pesan atau kumpulan pesan. Informasi dapat direkam atau ditransmisikan. Hal ini dapat dicatat sebagai tanda-tanda, atau sebagai sinyal berdasarkan gelombang. Informasi adalah jenis acara yang mempengaruhi suatu negara dari sistem dinamis. Para konsep memiliki banyak arti lain dalam konteks yang berbeda. Informasi bisa dikatakan sebagai pengetahuan yang didapatkan dari pembelajaran, pengalaman, atau instruksi. Namun, istilah ini memiliki banyak arti bergantung pada konteksnya dan secara umum berhubungan erat dengan konsep seperti arti, pengetahuan, negentropy, persepsi, stimulus, komunikasi, kebenaran, representasi dan rangsangan mental.

Dalam beberapa hal pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa tertentu atau situasi yang telah dikumpulkan atau diterima melalui proses komunikasi, pengumpulan intelejen, ataupun didapatkan dari berita juga dinamakan informasi. Informasi yang berupa koleksi data dan fakta seringkali dinamakan informasi statistik. Dalam bidang ilmu komputer, informasi adalah data yang disimpan, diproses, atau ditransmisikan. Penelitian ini memfokuskan pada definisi informasi sebagai pengetahuan yang didapatkan dari pembelajaran, pengalaman, atau instruksi dan alirannya.

Informasi adalah data yang telah diberi makna melalui konteks. Sebagai contoh, dokumen berbentuk spreadsheet (semisal dari Microsoft Excel) seringkali digunakan untuk membuat informasi dari data yang ada di dalamnya. Laporan laba rugi dan neraca merupakan bentuk informasi, sementara angka-angka di dalamnya merupakan data yang telah diberi konteks sehingga menjadi punya makna dan manfaat.

Dari berbagai pernyataan tersbut, maka kita kadang tidak mampu untuk membaca arus informasi yang begitu cepat berubah, bahkan tidak mengerti kalau keadaan telah berubah, seperti orang naik kendaraan tertidur kemudian terbangun ditempat tertentu dan sang sopir bertanya, dimana kita saat ini? Maka orang yang tertidur dapat dipastikan akan bingung kemudian ganti bertanya sampai dimana kita sekarang?

Alvin Toffler pernah mengatakan bahwa kekuatan terbesar dunia sekarang ini adalah ilmu pengetahuan dan teknologi. Barang siapa yang tidak menguasai  pengetahuan dan teknologi, maka posisinya akan termarginalkan dan akan terhempas oleh gelombang globalisasi yang sarat dengan kompetisi.

Masih menurut  Alvin Toffler,  menyatakan bahwa gelombang peradaban manusia itu dibagi menjadi tiga gelombang. Gelombang pertama adalah abad pertanian. Gelombang kedua adalah abad industri dan gelombang ketiga adalah abad informasi. Sementara ini Toffler baru berhenti disini. Namun teori-teori terus berkembang, saat ini peradaban manusia dengan kompetisi yang ganas dan globalisasi, masuklah manusia pada era peradaban baru yaitu Gelombang ke-4. Ada yang menyebutnya sebagai Knowledge-based Economy ada pula yang menyebutnya sebagai ekonomi berorientasi pada Kreativitas (Nenny, 2008)

Karena informasi ini apa saja bisa kita peroleh, ada informasi yang sudah bisa kita prediksi ada pula informasi yang tidak bisa diprediksi. Kalau kita mendapat informasi yang tidak kita prediksi maka kita tinggal menyaringnya, apakah informasi itu berguna atau tidak? Jika memang berguna maka transformasikan informasi tersebut menjadi sesuatu yang produktif, tapi jika tidak maka abaikan saja. Yang celaka adalah informasi itu sudah bisa diperdiksi, tetapi kita tidak mempersiapkan diri, setelah informasi itu betul-betul terjadi, yang ada adalah tergopoh-gopoh, panik dan sebagainya. Kasus ini dialami sendiri oleh penulis, kasus Borang Akreditasi untuk Fakultas Teknik, Teknik Informatika, saat Borang dikirim ke BAN PT Jakarta, salah satu stafnya menginformasikan akan di visitasi pada akhir bulan Mei, setelah itu infomasi disampaikan kepada seluruh jajaran agar mempersiapkan seluruh komponen yang dibutuhkan, dan seolah mengabaikan  dan terkesan santai. Pada hari tertentu informasi tentang kedatangan Asesor untuk melakukan visitasi benar-benar datang, tak urung semua jajaran kelebakan, merasa kurang disana sini, singkat kata panik.
Kesimpulan, kita terlalu sering mengabaikan sesuatu yang akan terjadi, menganggap bila sesuatu belum terjadi merasa masih ada waktu, akan tetapi bila hal tersebut terjadi akhirnya memaksakan diri untuk menuntaskan semua yang dibutuhkan, apakah kita akan selalu mengulangi  hal yang sama, itu namanya keb0dohan….semoga!!!!

0

.

Masihkah Jurnal Ilmiah Bemanfaat Untuk Publikasi Hasil Karya Ilmiah

Ir. Aliyadi, MM,M,Kom*

e-jurnal

Jurnal Ilmiah

Jurnal Ilmiah: Pengertian  Jurnal ilmiah adalah majalah publikasi yang memuat KTI (Karya Tulis Ilmiah) yang secara nyata mengandung data dan informasi yang mengajukan iptek dan ditulis sesuai dengan kaidah-kaidah penulisan ilmiah serta diterbitkan secara berkala. (Hakim, 2012)

Jurnal ilmiah wajib memenuhi persyaratan administratif sebagai berikut :

  1. Memiliki International Standard Serial Number (ISSN).
  2. Memiliki mitra bestari paling sedikit 4 (empat) orang.
  3. Diterbitkan secara teratur dengan frekuensi paling sedikit dua kali dalam setahun, kecuali majalah ilmiah dengan cakupan keilmuan spesialisasi dengan frekuensi satu kali dalam satu tahun.
  4. Bertiras tiap kali penerbitan paling sedikit berjumlah 300 eksemplar, kecuali majalah ilmiah yang menerbitkan sistem jurnal elektronik (e-journal) dan majalah ilmiah yang menerapkan sistem daring (online) dengan persyaratan sama dengan persyaratan majalah ilmiah tercetak.
  5. Memuat artikel utama tiap kali penerbitan berjumlah paling sedikit 5 (lima), selain dapat ditambahkan dengan artikel komunikasi pendek yang dibatasi paling banyak 3 (tiga) buah.

Sumber data dan informasi ilmiah yang dijadikan dasar dalam penyusunan KTI (karya tulis ilmiah) seperti jurnal ilmiah adalah tulisan yang mengandung data dan informasi yang memajukan iptek serta ditulis sesuai kaidah-kaidah ilmiah.

Kaidah KTI (karya tulis ilmiah) terdiri atas sifat-sifat berikut :

  1.  Logis, berarti berunutan penjelasan dari data dan informasi yang masuk ke dalam logika pemikiran kebenaran ilmu.
  2. Obyektif, berarti data dan informasi sesuai dengan fakta kebenarannya.
  3. Sistematis, berarti sumber data dan informasi yang diperoleh dari hasil kajian dengan mengikuti urutan pola pikir yang sistematis atau litbang yang konsisten/berkelanjutan.
  4. Andal, berarti data dan informasi yang telah teruji dan sahih serta masih memungkinkan untuk terus dikaji ulang.
  5. Desain, berarti terencanakan dan memiliki rancangan, dan
  6. Akumulatif, berarti kumpulan dari berbagai sumber yang diakui kebenaran dan keberadaannya serta memberikan kontribusi bagi khasanah iptek yang sedang berkembang.

Untuk mempersepsi apa arti Jurnal Ilmiah, apakah Jurnal Ilmiah harus pisik atau dalam bentuk Hardware, bagaimana kalau dalam bentuk software misal E-Jurnal, siapa lembaga yang kridibel unuk memberikan Akresditasi jika bentuknya E-Jurnal.

Menurut hemat penulis, Jurnal Ilmiah adalah salah satu media untuk mempublikasikan hasil pemikiran atau karya seorang Ilmuwan, jika hanya di cetak dalam bentuk buku seperti selama ini, siapa yang membacanya, dan berapa orang yang sudah membacanya, apakah sudah dinjadikan referensi karya ilmiah berikutnya.

Media internet sudah menjadi media publikasi paling mudah dan murah, tinggal memberikan Link pada media lain, maka kita bisa mendeteksi bahwa karya kita memang dibaca orang, bahkandi respon memnerikan kritik dan saran.

Dengan adannya pelatihan ini akan menjadi lebih jelas peran dan fungsi Jurnal Ilmiah dalam mempublikasikan karya ilmiah seseorang…semoga!!!!!

 

.

Klepu Sooko Ponorogo dan Murtad

Ir. Aliyadi, MM, M,Kom*

musholah

Tanah Wakaf

lokasi musholah klepu

Ketua PDM Ponorogo

Klepu-Sooko: Tatkala handphone berdering tak disangka telepun dari seseorang, pesan yang disampaikan mengajak untuk mengunjungi dusun Tanjung Desa Klepu Sooko Ponorogo, spontan tawaran tersebut saya sambut langsung menyatakan setuju, tepat pukul 14.00 kami bertiga, Achmad Munir, dan Aliyadi untuk meninjau langsung.
Luas tanah 12 x 12 m, wakaf tanah tesebut cukup luas, masyarakat sekitar mayoritas beragama Nasrani yang dulunya muslim, ada 12 KK yang masih teguh beragama Islam, dengan berdirinya Musholah ini diharapkan mampu membangkitkan kembali ghiroh untuk mensyiarkan Islam.
Pembangunan akan segera dimulai diharapkan pada bulan Ramadhan tahun ini sudah bisa digunakan untuk Shalat Taraweh, tentu hal ini membutuhkan bantuan dan dukungan kita semua, disamping itu Musholah ini dapat menjadi sarana untuk mengembangkan syiar agama Islam.
Klepu-Sooko Ponorogo salah satu daerah di Kabupaten Ponorogo yang merupaka daerah muslim, entah sejak kapan pastinya daerah ini banyak yang pindah agama, yang semula beragama Islam kemudian pindah alias murtad.
Tentu ini merupakan tanggungjawab kita semua untuk membina umat kita sendiri, jika umat kita tidak dibina maka jangan salahkan jika pihak lain dengan berbagai upaya memurtadkan umat Islam seperti halnya di Klepu Sooko ini.
Berbagai upayapun dilakukan untuk menarik kembali umat yang sudah terlanjur murtad tersebut ke jalan yang benar, tentu ini memeerlukan kerja keras dan meyakinkan bahwa kita memang peduli dan menganggap mereka adalah saudara….semoga!!!!

.

Borang, Akeditasi dan Status Gengsi Perguruan Tinggi

SK BANT PT

Contoh Sertifikasi Akreditas UMM Malang

Ir. Aliyadi, MM, M.Kom*

Borang: Saat pertama kali kata borang penulis sampaikan pada suatu pertemuan resmi, sempat beberapa teman betanya dengan sinis, apa itu Borang? Penulispun hanya menjawab dengan santai, itu suatu format isian yang sudah dilakukan oleh perguruan tinggi lain, saat itu UMM Malang, tapi karena kalimat itu asing, dalam pemikiran teman-teman kata Borang identik dengan nama daerah di Kabupaten Ponorogo yang sekarang menjadi merek dagang soto Borang. Tidak berselang lama ada surat edaran dari Menteri Pendidikan waktu itu tahun 90-an semua perguruan tinggi wajib untuk mengisi Borang, barulah sadar bahwa mahluk Borang itu ternyata memang ada di dunia perguruan tinggi, terlanjur sinis dengan kata Borang, hingga kini borang menjadi sangat populer disetiap telinga insan perguruan tinggi, artinya sudah tidak asing lagi.

Borang hingga kini tetap menjadi buruan yang harus di perjuangkan, bukan kalimatnya akan tetapi isian yang ada didalam borang tersebut, karena dengan Borang berikut isianya yang menjadi tolak  ukur oleh pemerintah melalui BAN-PT (Badan Akreditasi Perguruan Tinggi) tersebutlah Nama Institusi akan menaruhkan nasibnya, karena pengguna akan selalu bertanya apa akeditasi sebuah Perguruan Tinggi? A, B atau C bahkan tidak terakreditasi.

Disitulah letak tolak ukur, dengaan diberlakukan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, pemerintah sudah tidak lagi membedakan antara PTS dan PTN dalam hal status akreditasi, sekarang banyak PTN terakrditasi B bahkan C, sebaliknya banyak PTS terakrditasi B bahkan A, dengan demikian masyarakat dibebaskan untuk memilih untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, tidak ada lagi beda antara PT di kota besar maupun kecil seperti di Kabupaten Ponorogo, dari pada membuang-buang biaya lebih besar kota kecil adalah piliha yang tepat.

Pemerintah nampaknya sudah mencanangkan bahwa penduduk Indonesia yang lebih kurang 250 juta, minimal  berpendidikan tinggi 15 %, bahkan pemerintah Jokowi-JK lebih giat lagi untuk mencetak 1000 doktor.

Kembali ke soal Borang, segala daya upaya dan pemikirang tercurah untuk melengkapi  isian Borang, dalam instrumen yang ada dalam Borang tersebut bertujuan untuk memastikan kualitas Pendidikan Tinggi benar-benar mampu menjawab tantangan dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, tidak hanya mencapai target lulusan 15 %  penduduk Indonesia bertitel sarjana, akan tetapi lebih dari itu, MEA sudah didepan mata, pertempuran sudah dimulai, tapi kita masih disibukkan dengan mengisi Borang, sibuk mempersiapkan isiannya, misal SDM, karena khusus untuk SDM tidak mungkin dicetak dalam waktu sekejab.
Kendala pasti ada setiap perubahan, tuntutan kemajuan dengan tolak ukur kualitas, bahkan yang dituntut sekarang kualitas prima, merupakan ciri masyarakat modern kalau kita tidak mau menyesuaikan maka akan disingkirkan oleh peradaban.

Akhirnya, setiap gerak langkah selalu menyesuaikan dengan apa yang dimaui oleh Borang, satu persatu masalah dihadapi dan silesaikan, untuk Akrditasi Institusi Universitaa Muhammadiyah Ponorogo telah berhasil mencapai hasil fantastis B, apakah itu yang dinamakan gengsi suatu perguruan tinggi, serahkan saja para pengguna, walaupun sudah mampu menyelesaikan satu masalah, akan muncul masalah yang lainya, dinamika ini harus dijawab dengan kerja keras, dan peka mengantisipasi setiap perubahan, jangan menjadi manusia yang gagap kurang peka dan jika mendapat isu perubahan reaksi yang muncul.
Tugas berat ada di pundak kita semua, demi tugas dan tanggungjawab kita sebagai insan pendidik terutama di amal usaha Muhammadiyah,  Universitas Muhammadiyah Ponorogo, kita harus bangga ditakdirkan menjadi bagian dari perjuangan memajukan umat….semoga!!!!

 

.

Penting dan Genting Bermaknakah??

Ir. Aliyadi, MM, M.Kom*

Garuda_B737_im1

Contoh Seorang Pilot Garuda Darurat Mendaratkan Pesawat di Sungai

GENTING: Ada ungkapan awas genting, artingya situasi sangat gawat dan darurat, maka semua orang akan berancang-ancang membentuk pertahanan atau perlawanan yang matang.

Kalau kita gabungkan dengan kata penting maka ada makna lain, misal “penting-genting” artinya ada sesuatu yang harus segera kita selesaikan, Maka kita tidak ada waktu untuk menunda mendiskusikan lebih lama, masing-masing kita dituntut menggunakan felling bahwa apapun keputusan yang kita ambil adalah benar, dan bila sudah di putuskan ternyata salah itu adalah pahala, dibandingkan dengan orang dalam.menghadapi hal darurat tidak melakukan apa-apa, contoh sederhana, seorang pemain bola, jika ia menerima bola maka keputusan yang dia harus ambil dalam hitungan detik, bola di dapat, lalu bola itu harus diambil keputusan sendiri, mau ditendang langsung takut kalau direbut lawan, atau didribeling dulu dengan keahlian menggiring bola, jika berhasil memasukan bola ke gawang lawang, tentu beberapa keuntungan didapat, pertama: bola masuk tersebut menambah skor untuk kemenangan tim; kedua:  penonton akan puas melihat permainan kita yang cantik. Ini hanya ilustasi makna “penting-genting”, intinya, kita tidak ada waktu untuk menunda. Lihatlah kisah Pilot Pesawat Garuda yang mengalami kerusakan mesin. Pesawat GA-421 berangkat dari Selaparang pada tanggal 16 Januari 2002, ketika pesawat pada ketinggian kurang lebih 8.000 kaki,  Ko-pilot mengenali daerah itu sebagai kota Klaten. Captain yang diberitahu, lalu mulai mencari daerah untuk melakukan pendaratan darurat. Ko-pilot berinisiatif memanggil awak kabin lewat PA (Passenger Address), namun tidak ada yang menyahut. Tiba-tiba Tuhu Wasono memasuki kokpit. Ia bertanya tentang keadaan pesawat. Captain memberitahukan keadaan darurat dan memerintahkan agar seluruh awak pesawat melakukan persiapan pendaratan darurat. Captain-pun sudah menemukan dan menentukan akan melakukan pendaratan di sungai yang berada agak sebelah kiri dari track pesawat. Ko-pilot memberitahu bahwa di sebelah timur kali terdapat sawah yang luas. Namun Captain berpendapat bahwa akan lebih baik mendarat di sungai daripada di sawah. Usulan ini diterima oleh Ko-pilot. Setelah segala upaya dilakukan untuk menyelamatkan pesawat tidak berhasil, saya merasa dekat sekali pada kematian ujar sang pilot, Capten Abdul Rozaq telah mampu mengambil keputusan dala keadaan segenting itu.

Lain halnya dengan ungkapan berikut “penting-tidak genting” maka kita masih ada waktu mendiskusikan yang menjadi obyek sedang kita hadapi, walaupun masih ada waktu prinsip manajemen harus dipetakan menjadi skala prioritas, jika memang masih dibutuhkan ya segara untuk mengambil tindakan, jangan sampai menunda, siapa tahu yang kita anggap tidak genting sebenarnya penting.

Yang terakhir ini memang ada ungkapan “tidak penting-tidak genting” sebaiknya abaikan saja, sebab bila lakukan akan membuang energi, misal, mendiskusikan dulu mana telur dan ayam, ya itu contoh debat yang menurut teman saya, berpendapat tapi tidak berpendapatan alias zonk.

Jadi, kesmipulanya kita harus mampu mengidetifikasi permasalahan apappun yang kita hadapi dengan mimilah menjadi tiga katagori, yaitu: penting-genting, penting- tidak genting dan tidak penting-tidak genting. Apabila kita mampu mengidentifikasikanya maka keberhasilan suatu organisasi untuk mencapai tujuan akan bisa tercapai…..semoga!!!!